14885758_315662295484383_2048875727_n-114962431_316714648712481_1963619345_n14961473_315662252151054_378744553_n

Angkona, infolutim

Pembangunan Sekolah SMPN 5 Angkona yang berlokasi didesa Taripa kecamatan angkona Luwu Timur, dengan metode pembangunan swakelola yang bersumber dari APBN dengan anggaran 2.151.460.000 diduga menyalahi bestek. Pasalnya rangka atap dan rangka plafon sekolah ini menggunakan kayu campuran.

Sesuai laporan warga desa Taripa, bahwa rangka kayu yang digunakan sebagai rangka atap dan plafon sekolah SMPN 5 dikampung mereka menggunakan kayu campuran. “sangat disayangkan pembangunan sekolah ini terkesan asal jadi, Karena rangkanya menggunakan kayu campuran. Begitu juga kayu yang dipasang sebagai rangka plafonnya banyak menggunakan campuran kayu yang tidak punya kwalitas, ujar Kamal anggota BPD desa Taripa.

Bukan hanya itu lanjut kamal dan beberapa kepala dusun, “ketebalan lantainya saja hanya kurang lebih 2 cm saja, kami khawatir hanya bertahan beberapa bulan saja lalu kropos, apa lagi tidak ada timbunan sebelum dipondasi” ujar kamal.

Menurut keterangan warga desa taripa yang intens mengawasi pembangunan sekolah ini, kejanggalan pembangunan sekolah ini bukan saja terdapat pada bahan rangka kayu yang digunakan, akan tetapi termasuk tidak adanya timbunan sebelum dipondasi. “kami sangat sayangkan pembangunan sekolah permanent ini dengan anggaran 2 Miliaran lebih akan tetapi tidak ada biaya penimbunannya. Padahal lokasi yang ditempati membangun ini daerah dataran rendah dan langganan banjir” tutur 2 orang kadus dan anggota BPD desa Taripa seraya menunjuk lantai sekolah yang sementara dipasangi selasar.

Ketua pengawas lapangan yang sekaligus ketua BPD desa Taripa Armin saat ditanya tentang kondisi bangunan mengatakan kalau memang ada yang tidak sesuai silahkan dipublikasikan saja, karena menurut kami pembangunan sekolah ini sudah sesuai besteknya, ujar Armin.

Ketua panitia pembangunan SMPN 5 Angkona Sukaris saat dikonfirmasi terkait penggunaan rangka kayu campuran mengatakan kalau kayu yang digunakan itu sudah memenuhi standar. Menurut Sukaris kayu yang dia beli rata-rata jenis kayu klass yang memiliki izin lengkap, “adapun jika terdapat kayu campuran itu hanya digunakan sebagai papan cor dan sebagai rangka plafonnya saja, tetapi kalau mau penjelasan secara tekhnis silahkan dikonfirmasi konsultan kami, jelas Sukaris guru SMPN 1 Kalaena.

Terkait dengan Konsultan pengawas pembangunan sekolah yang tinggal dikota Makassar sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasinya. Sesuai janji ketua panitia pembangunan, Sukaris akan memberikan informasi jika konsultannya berada dilokasi. namun sampai saat ini konsultan pengawas belum ada informasi keberadaannya dilokasi pembangunan sekolah.

(Alw/Mus-IL)