Panwas Kab. Lutim Gelar Rakor Pengawasan Partisipatif

infolutim.com

Terbatasnya jumlah anggota Bawaslu Provinsi, Panwas Kabupaten dan Panwas Kecamatan membuat lembaga pengawas pemilu ini gencar melakukan sosialisasi dan rapat koordinasi dengan seluruh Stake Holder atau Pemangku Kepentingan.

Termasuk juga dalam hal ini para pemilih pemula, pemilih perempuan, organisasi kepemudaan (OKP) dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya. Tujuannya tentu saja dalam rangka membangun kebersamaan dalam melakukan pengawasan pada tahapan-tahapan Pilkada dan Pemilu.

Terkait hal itu maka Panwas Kabupaten Luwu Timur menggelar Rapat Koordinasi (rakor) pengawasan partisipatif yang dilaksanakan di Hotel SiKumbang tgl 20 – 21 Desember 2017. Pemateri yang dihadirkan adalah  Azry Yusuf SH. MH Komisioner Bawaslu Prov Sulsel bid. Hukum, Ketua KPU Luwu Timur Muh. Nur atau biasa dipanggil Kak Cici, Kapolsek Mangkutana AKP. Muh. Idris, para Ketua Panwas Lutim Rahman Atja,SH, Zainal Arifin S.sos dan Dra. Sukmawati suaib.

Sementara peserta rakor terdiri dari puluhan Organisasi Kepemudaan seperti KPA Karpala, KNPI, FKKPI, PMI, Bem Stikes Batara Guru, Sapma, Gempa Walutim, Forum Getir, Anshor Tomoni dan OKP serta Ormas lainnya. Hadir juga Remaja Mesjid, Majelis Taklim, Pemuda Gereja, Pemuda Pura, Pramuka Tomoni Timur dan beberapa orang dari Media Massa.

Azry Yusuf SH dalam pemaparannya menjelaskan bahwa selain fokus pada data pemilih, penyelenggara pemilu juga harus fokus pada pengawasan proses pelaksanaan kampanye. Kampanye itu banyak pamalinya, banyak larangannya. Kampanye tidak boleh dengan cara menghasut, tidak boleh mempersoalkan Pancasila dan Undang2 dasar, tidak boleh mempersoalkan Suku, Agama dan Ras.

Tantangan lainya adalah Money Politik dan Politik identitas, bahaya money politik adalah menghasilkan pemimpin yang pragmatis dan berpotensi melakukan korupsi dan ujung-ujungnya rakyat yang menderita. Sementara politik identitas adalah membesar-besarkan perbedaan suku, agama dan ras, warna kulit dan sebagainya. Resikonya adalah negara kesatuan kita bisa berantakan. Ini sangat berbahaya dan rawan terjadi pada masa kampanye. Bawaslu tidak akan mentolelir pelanggaran2 kampanye yang bisa merusak pasif dan merusak keutuhan kita.

Setelah memberikan pemaparan materinya Azry Yusuf mengajak audiens untuk berdiskusi dan disambut dengan berbagai pertanyaan dari para audiens. Para peserta tampak puas dengan jawaban-jawaban dari Azry Yusuf.

Saat diwawancarai oleh media Infolutim disela-sela waktu istirahat, Azry Yusuf menyampaikan apresiasi terhadap OKP, Ormas dan tokoh-2 masyarakat yang hadir begitu tertib dan cerdas. Azry berharap para pengawas kecamatan melanjutkan sosialisasi dan koordinasi diwilayahnya masing-masing karena para peserta yang hadir dikegiatan ini bukanlah sasaran akhir melainkan sebagai sasaran perantara. Azry kemudian menyatakan rasa optimisnya bahwa pelaksanaan Pilgub di Luwu Timur nanti akan berlangsung tertib dan lancar dan hal itu tergambar pada acara malam ini.

Sesi acara berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan dari Kapolsek Mangkutana yang mewakili Kapolres Luwu Timur yang berhalangan hadir. Muh. Idris Kapolsek Mangkutana menekankan bagaimana peran Polisi yang tidak memilih dan tidak diplih alias netral dan benar-benar fokus untuk menjaga keamanan, karena itu peran polisi sangat besar.

Muh. Idris juga mengatakan bahwa selama ini polisi sering menjadi sasaran saat melaksanakan pengamanan, seperti menerima lemparan dan cacian sebagainya tetapi polisi tetap siap dan siaga untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Hal lain yang perlu diwaspadai menurutnya adalah penyalahgunaan IT dimana ada banyak sekali pemberitaan yang bersufat HOAX. Itulah sebab Polri kemudian membentuk unit yang disebut Cyber Crime.

Dra. Sukmawati suaib saat mendapat giliran menyampaikan pemaparannya mengajak audiens untuk berdiri dan meneriakan tagline panwas. Ia kemudian menjelaskan bahwa nama panwas kabupaten tidak lama lagi akan diganti menjadi Bawaslu kabupaten. Panwas itu sendiri adalah kegiatan mengamati, mengkaji dan memeriksa serta menilai proses penyelengaraan pemilu.

Mungkin ada yang mempertanyakan kenapa anggota panwas itu seakan-akan selalu mengikuti dan sepertinya memata-matai kerjaan-kerjaan KPU. Hal itu wajar karena Panwas itu memang harus memastikan bahwa yang nereka lakukan itu memang sudah sesuai aturan. Sukmawati kemudian membuka sesi tanya jawab dan diskusi dengan para peserta undangan yang hadir.

Ketua KPU Muh. Nuh saat memberikan pemaparannya kembali menyarankan agar para anggota PPL untuk membangun komunikasi dan kerjasama dengan para petugas PPS mengingat jumlah PPL yang terbatas dan jumlah KTP yang akan diverifikasi lumayan banyak apalagi ditambah cover area yang begitu luas. Lumayan berat tugas dari Panwas.

Saat diwawancarai oleh media Infolutim Muh. Nur mengatakan bahwa kegiatan ini bagus sekali karena melibatkan tidak hanya panwas tetapi juga yang diluar panwas seperti Tokoh-tokoh pemuda, organisasi pemuda, pengurus lembaga swadaya masyarakat semua ada saya liat. Jadi ini bisa memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat umum bahwa pemilu dan pengawasan pemilu itu semua orang harus terlibat.

Harusnya semua lapisan masyarakat mengikuti kegiatan seperti ini tetapi itu terkendala dianggaran karena bagi penyelenggara pemilu harusnya ada 5 elemen yang harus dikunjungi yaitu kelompok perempuan, kelompok marjinal, kelompok disabilitas, kelompok pemilih pemula dan kelompok masyarakat pinggiran tetapi karena keterbatasan anggaran maka akhurnya kembali pada kreatifitas dari para penyelenggara pemilu. Demikian penjelasan dari ketua KPU Muh. Nur atau biasa dipanggil Kak Cici menutup perbincangan kami.

Kegiatan Rakor kemudian ditutup dengan sesi photo-photo bersama dan para peserta kegiatan dipersilahkan untuk menempati kamar-kamar yang telah disiapkan oleh panitia kegiatan. (Djiesam-IL)