Infolutim. Com
Wakil Ketua 1 DPRD Luwu Timur, Muhammad Siddik BM menyebut kota Malili sebagai ibukota kabupaten Luwu Timur dinilai paling sunyi di Indonesia. Bahkan kondisi Malili pada tahun 1970-an  lebih ramai dari pada saat saat ini.
Pernyataan legilsator Nasdem tersebut, disampaikan di acara debat ruang publik yang digelar di Solidaritas Anak Negeri Kreatif Sawerigading (Sketsa) Luwu Timur di lapangan Basket Malili, Rabu (27/03/2019)  sekaligus rangkaian ulang tahun yang ke 17 Untuk organisasi Sketsa yang merupakam salah satu organisasi kepemudaan Luwu Timur, sekaligus mengukuhan pengurus baru Sketsa periode 2018-2022.

Saya sudah berkeliling di sejumlah ibukota kabupaten di Indonesia. termasuk di Lasusua ibukota kabupaten Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara) yang saya anggap sepi dari aktivitas masyarakat. Namun ternyata di (Lasusua) masih lebih ramai dari pada ibukota Malili kabupaten Luwu Timur. Geliat kehidupan warga di ibukota kecamatan tersebut lebih ramai dari Malili,” Kata Siddik.

Dia membandingkan aktivitas dan perekonomian warga Malili di tahun 1970-an silam yang ramai karena dengan adanya keberedaan pelabuhan Malili. ” Di masa lalu, hampir setiap harinya puluhan kapal pengangkut barang bersandar di pelabuhan Malili. Kapal-kapal itu berasal dari Wotu, Palopo hingga Sulawesi Tenggara menjadikan pelabuhan Malili menjadi tempat perlintasan. Namun kondisi tersebut tidak kita temukan lagi saat ini. Sehingga saya menyimpulkan bahwa ibukota kabupaten tersunyi di Indonesia adalah Malili,” katanya.

Perkataan wakil ketua 1 DPRD Luwu Timur tersebut ditanggapi oleh salah seorang tokoh pemuda Luwu Timur, Mahading. Menurut mantan ketua KPU dan KNPI Luwu Timur, kondisi Malili pada tahun 1970-an dan sekarang memang berbeda seiring perkembangan zaman, pada tahun 1970-an sarana dan prasarana infrastruktur khususnya jalan memang sangat minim sehingga masyarakat menjadikan jalur sungai sebagai akses utama mereka untuk beraktifitas. Namun sekarang kondisinya sudah berbeda seiring dengan geliat pembangunan infrastrukur jalan di setiap daerah,” cetus Mahading.

(Rafli .IL)