Infolutim.com

Pabeta – Gencarnya Pemerintah Kabupaten termudah di Sulawesi Selatan dalam mencanangkan Visi Misi “Menuju Luwu Timur Terkemuka” dibawah Pemerintahan Muh. Thoriq Husler selaku Bupati Lutim dan wakilnya Irwan Bachri Syam.

Dari data yang dirangkum Tim Investigasi infolutim.com diwilayah Kabupaten terkaya di Sulawesi Selatan ini terdapat warga di Dusun Pabeta Lorong Podomoro/SLB Desa Manurung Kecamatan Malili yang memiliki kehidupan memilukan. Mirisnya lagi, belum pernah disentuh pihak pemerintah setempat.

Ya, Sadimun namanya, Kakek berusia 68 Tahun ini harus bertahan hidup dengan bertaruh nyawa. Bagaimana tidak, selain penyakit Stroke yang dideritanya sejak 5 bulan terakhir yang tak kunjung sembuh dan terkesan dibiarkan menggerogoti tubuhnya dikarenakan tak memiliki biaya untuk berobat.

Belum lagi, Sadimun beserta istrinya Landup harus harap-harap cemas saat berada didalam rumah dikarenakan kondisi tiang penyangga rumah miliknya mulai rapuh termakan usia.

Sebelum penyakit yang mulai betah bersarang ditubuhnya, Ayah satu anak ini (Maman Markosuono/23) kesehariannya disibukkan mencari rumput dan mengurus ternak Kambing serta bertani menggarap sawah milik orang lain dengan mengharapkan upah bagi hasil.

“Setiap harinya hanya cari rumput untuk ternak dan bertani menggarap sawah orang dengan bagi hasil. Namun apa daya sudah tak bisa lagi beraktifitas seperti biasanya karena mengalami sakit Stroke ringan, adapun ternak kambing milik orang di pelihara bagi hasil, namun sayang dari hasil ternak bagian saya habis terjual untuk berobat selama saya sakit hampir 5 bulan terakhir,”cerita Sadimun sembari terbaring diatas ranjang kumuh didampingi istrinya Nenek Landup. Sabtu (26/5)

“Kalau rumah ini punya saya tapi tanahnya milik orang, Kondisi rumah inipun sudah mulai rapuh tiangnya, seandainya saya sehat dari kemarin saya kegunung cari tiang kayu untuk mengganti tiang rumah. Tapi saya tidak berdaya, saya sedang sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa jadi mau tidak mau kami harus bersabar saja,” tambahnya.

Saat ini keluarga Sadimun hanya bisa bertahan hidup dari belas kasihan tetangga yang ikhlas memberikan makanan kepada keluarganya secara bergantian.

“Kalau untuk makan kami sehari-hari biasa ada tetangga yang bawa makanan secara bergantian setiap harinya selama saya sakit hingga sekarang. Kalau Pemerintah, sampai saat ini belum ada yang mendatangi kami,”cetusnya.

(Andi Ade/Andi Zachril)